Bila kita tengok sejarah, salahsatu penyebab kebangkrutan rezim penjajah Belanda ialah kerasnya perlawanan ummat Islam sepulang dari ibadah Haji ke tanah suci. Tokoh-tokoh yang semula belum berjuang, sepulang haji muncul menjadi pejuang, tokoh-tokoh yang semula pejuang semakin garang.
Rupanya, perjalanan haji yang memakan waktu berbulan-bulan lamanya tidak sekedar digunakan menunaikan rukun haji, melainkan dimanfaatkan pula untuk menuntut ilmu agama pada ulama asal Indonesia yang bermukim disana, diantaranya ialah Syaikh Nawawi Al-Bantani.
Di majelis-majelis ilmu Syaikh Nawawi Al-Bantani rupanya tidak sekedar
memberi ilmu syar'i melainkan juga memompa semangat nasionalisme dan ruh
jihad melawan kolonialisme Belanda. Sehingga kesadaran untuk merebut
kemerdekaan dari tangan penjajah semangat membuncah di dada Kaum
muslimin sepulang dari tanah suci.
Andai bukan karena jasa para ulama, Mahaguru semisal Syaikh Nawawi al-Bantani barangkali kesadaran menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat itu tak pernah ada dalam jiwa rakyat Indonesia.
Menghadapi fenomena ini, rezim penjajah menerapkan kodifikasi pada kaum Muslim dengan menambahkan gelaran "haji" bagi mereka yang baru pulang dari ibadah haji untuk memudahkan pemantauan dan antisipasi aktivitas yang membahayakan rezim.
Rezim penjajah juga mengirimkan seorang orientalis bernama Snouck Hurgronjen untuk "belajar" dari para Mahaguru di tanah Arab. Sepulangnya Snouck, Ia melakukan infiltrasi ditengah Kaum Muslimin untuk menjalankan politik adu domba antar gerakan Islam, yang sangat efektif melemahkan perlawanan terhadap rezim.
Andai bukan karena jasa para ulama, Mahaguru semisal Syaikh Nawawi al-Bantani barangkali kesadaran menjadi bangsa yang merdeka dan berdaulat itu tak pernah ada dalam jiwa rakyat Indonesia.
Menghadapi fenomena ini, rezim penjajah menerapkan kodifikasi pada kaum Muslim dengan menambahkan gelaran "haji" bagi mereka yang baru pulang dari ibadah haji untuk memudahkan pemantauan dan antisipasi aktivitas yang membahayakan rezim.
Rezim penjajah juga mengirimkan seorang orientalis bernama Snouck Hurgronjen untuk "belajar" dari para Mahaguru di tanah Arab. Sepulangnya Snouck, Ia melakukan infiltrasi ditengah Kaum Muslimin untuk menjalankan politik adu domba antar gerakan Islam, yang sangat efektif melemahkan perlawanan terhadap rezim.
