![]() |
| Guru Mansur, Kampung Sawah Lio - Jembatan Lima |
Disamping para Habaib keturunan Alawiyin, Orang Betawi tempo dulu membagi tokoh agama kedalam 3 kriteria;
Pertama ialah Guru.
Selain mengajarkan kitab sebagaimana umumnya Ulama, Guru memiliki otoritas untuk berfatwa dan ahli dalam salahsatu bidang tertentu. Misal Guru Mansur, Kampung Sawah Jembatan Lima (lihat foto) Beliau seorang ahli ilmu Falak, beberapa kitab karyanya secara khusus membahas metode hisab-rukyat.
Ciri khas seorang Guru tidak pergi mengajar atau tabligh dari satu tempat ke tempat lain, melainkan para muridnya yang memdatangi majelis atau masjidnya untuk menimba ilmu.
Kedua ialah Mualim.
Mualim mengajarkan berbagai kitab yang diampunya baik di majelisnya sendiri maupun berpindah dari satu majelis ke majelis lainnya. Namun, Mualim belum memiliki otoritas berfatwa sebagaimana Guru. Salah seorang Mualim yang dikenal luas misalnya Mualim Syafi'i Hadzami, majelis ilmunya ratusan jumlahnya di Jabotabek dan sukses melahirkan ribuan murid dan banyak diantaranya yang kemudian menjadi ulama pula.
Ketiga ialah Ustadz.
Ustadz ialah pengajar baca tulis Al Qur'an dan ilmu-ilmu dasar keislaman. Ustadz mengajar di surau di kampung-kampung dan sambil belajar pada para Mualim dan Guru.
Namun dari 3 kriteria tersebut, maupun para Habaib Alawiyin di tanah Betawi Tempo dulu ada kesamaan ciri khas yang dimiliki oleh keempatnya. Yaitu, keras dan pantang kompromi dengan rezim yang dzalim baik di masa kolonial maupun rezim orde lama dan masa represif orde baru.
Guru Mansur misalnya, sejarah mencatat keberaniannya menantang tentara Belanda dengan memasang bendera merah putih di menara masjidnya. “Islam tidak mau ditindas, saya enggak mau ngelonin kebatilan” kata Guru Mansur menolak tegas bujuk rayu penjajah.
Diantara anak keturunan Beliau yang kita kenal sekarang ialah Ustadz Yusuf Mansur pimpinan Daarul Qur'an yang terkenal dengan gerakan kemandirian ekonomi ummat melalui sedekah dan pembibitan penghafal Al Qur'an.
Mualim mengajarkan berbagai kitab yang diampunya baik di majelisnya sendiri maupun berpindah dari satu majelis ke majelis lainnya. Namun, Mualim belum memiliki otoritas berfatwa sebagaimana Guru. Salah seorang Mualim yang dikenal luas misalnya Mualim Syafi'i Hadzami, majelis ilmunya ratusan jumlahnya di Jabotabek dan sukses melahirkan ribuan murid dan banyak diantaranya yang kemudian menjadi ulama pula.
Ketiga ialah Ustadz.
Ustadz ialah pengajar baca tulis Al Qur'an dan ilmu-ilmu dasar keislaman. Ustadz mengajar di surau di kampung-kampung dan sambil belajar pada para Mualim dan Guru.
Namun dari 3 kriteria tersebut, maupun para Habaib Alawiyin di tanah Betawi Tempo dulu ada kesamaan ciri khas yang dimiliki oleh keempatnya. Yaitu, keras dan pantang kompromi dengan rezim yang dzalim baik di masa kolonial maupun rezim orde lama dan masa represif orde baru.
Guru Mansur misalnya, sejarah mencatat keberaniannya menantang tentara Belanda dengan memasang bendera merah putih di menara masjidnya. “Islam tidak mau ditindas, saya enggak mau ngelonin kebatilan” kata Guru Mansur menolak tegas bujuk rayu penjajah.
Diantara anak keturunan Beliau yang kita kenal sekarang ialah Ustadz Yusuf Mansur pimpinan Daarul Qur'an yang terkenal dengan gerakan kemandirian ekonomi ummat melalui sedekah dan pembibitan penghafal Al Qur'an.
