Sholawat Betawiyin atau sholawat asygil atau sholawat min dzalimin ini populer di masyarakat Jakarta pada tahun 70 hingga 90an akhir.
Sholawat ini diperkenalkan oleh Kyai Abdullah Syafi'i (semoga Allah rahmati) melalui siaran radio asyafiiyyah miliknya. Hingga kemudian disebarkan oleh para ulama di majelis-majelis hingga masjid-masjid di Jakarta dan sekitarnya.
Sholawat
Betawiyin ini merupakan bentuk perlawanan terlemah ummat saat itu
menghadapi rezim represif Orde Baru yang begitu memusuhi ulama dan
syi'ar Islam.
Sya'irnya begitu mendalam, mengungkap kepasrahan ummat atas kezaliman orang-orang zalim sekaligus do'a agar Allah sibukkan orang-orang zalim dengan orang-orang zalim lainnya dan mengeluarkan ummat dengan selamat dari kezaliman mereka.
Dan benar, akhirnya orde baru disibukkan dengan kezaliman yang mereka buat sendiri. Di penghujung tahun 90an, Pak Harto mulai dekat dan permisif dengan ulama dan ummat. Bahkan LB Moerdani yang dikenal begitu zalim pada ummat memutuskan menjadi muallaf diujung usianya.
Nampaknya perlu kita syi'arkan lagi sholawat ini ke seluruh Jakarta, bahkan mungkin seluruh pelosok NKRI.
Sya'irnya begitu mendalam, mengungkap kepasrahan ummat atas kezaliman orang-orang zalim sekaligus do'a agar Allah sibukkan orang-orang zalim dengan orang-orang zalim lainnya dan mengeluarkan ummat dengan selamat dari kezaliman mereka.
Dan benar, akhirnya orde baru disibukkan dengan kezaliman yang mereka buat sendiri. Di penghujung tahun 90an, Pak Harto mulai dekat dan permisif dengan ulama dan ummat. Bahkan LB Moerdani yang dikenal begitu zalim pada ummat memutuskan menjadi muallaf diujung usianya.
Nampaknya perlu kita syi'arkan lagi sholawat ini ke seluruh Jakarta, bahkan mungkin seluruh pelosok NKRI.
