Bila melintasi Jl.Gatot Subroto arah Cawang di sebelah kiri akan kita dapati sebuah Masjid berwrna Putih berdiri megah diantara gedung-gedung pencakar langit. Pernahkah terbersit di pikiran, mengapa di area perkantoran nan elit tersebut bisa berdiri sebuah Masjid megah yang tidak terusik pembangunan?
Itulah masjid Baitul Mughni yang dibangun oleh Guru Mughni, ulama sekaligus pejuang penyokong kemerdekaan RI. Selain sebagai seorang Guru (lihat posting Saya sebelumnya mengenai istilah Guru di Jakarta) yang alim, Guru Mughni juga seorang dermawan yang berjihad melawan rezim penjajah dengan hartanya.
Ketika terjadi revolusi fisik melawan penjajah, Guru Mughni mengizinkan
rumahnya di Tanah Abang dijadikan tempat pertemuan tokoh-tokoh
perkumpulan Yong Islamiten Bond oleh Pahlawan Nasional KH. Agus Salim.
Sikap kerasnya pada pemerintah kolonial ditunjukkan Saat Guru Mughni menolak tawaran Belanda untuk menempati posisi sebagai Penghulu, jabatan yang strategis sekaligus menggiurkan pada masa itu.
Semasa hidupnya, Guru Mughni banyak membantu perekonomian masyarakat di bilangan Kuningan. Begitupula ketika Beliau bermukim di Makkah dalam rangka menuntut ilmu, Guru Mughni meminjamkan kemah kepada para Jamaah Haji Indonesia, sedang rumahnya diwakafkan untuk para penuntut ilmu asal Indonesia disana.
Beliau pun nekat membangun Masjid Baitul Mughni dengan modal koceknya sendiri meskipun tidak diizinkan otoritas Belanda saat itu.
Diantara anak keturunan beliau yang juga menjadi ulama besar di tanah Jakarta ialah KH. Ali Sibromalisi yang juga merupakan menantu Guru Marzuki. Sedang yang masih hidup ialah KH. DR. Lutfi Fathullah, MA salah seorang Ulama Indonesia dengan kepakaran di bidang hadits.
Sikap kerasnya pada pemerintah kolonial ditunjukkan Saat Guru Mughni menolak tawaran Belanda untuk menempati posisi sebagai Penghulu, jabatan yang strategis sekaligus menggiurkan pada masa itu.
Semasa hidupnya, Guru Mughni banyak membantu perekonomian masyarakat di bilangan Kuningan. Begitupula ketika Beliau bermukim di Makkah dalam rangka menuntut ilmu, Guru Mughni meminjamkan kemah kepada para Jamaah Haji Indonesia, sedang rumahnya diwakafkan untuk para penuntut ilmu asal Indonesia disana.
Beliau pun nekat membangun Masjid Baitul Mughni dengan modal koceknya sendiri meskipun tidak diizinkan otoritas Belanda saat itu.
Diantara anak keturunan beliau yang juga menjadi ulama besar di tanah Jakarta ialah KH. Ali Sibromalisi yang juga merupakan menantu Guru Marzuki. Sedang yang masih hidup ialah KH. DR. Lutfi Fathullah, MA salah seorang Ulama Indonesia dengan kepakaran di bidang hadits.
