Dari keempat Mahasiswa yang tengah dizalimi, satu-satunya yang pernah Saya bertatap muka dengannya secara langsung hanyalah Ikhsan Munawwar. Itupun sepintas saja dalam satu kali diskusi kecil yang Saya lupa kapan tepatnya.
Meskipun tak pernah berjumpa, kesemuanya tetaplah seorang adik bagi Saya. Adik Ideologis dalam jalan panjang gerakan mahasiswa. Kami sama-sama dilahirkan dari rahim perjuangan bernama BEM SI.
BEM SI yang beranggotakan BEM dari berbagai kampus atau dulu bernama
Senat adalah sebuah wadah perjuangan yang unik. Berbeda dengan lembaga
ekstra kampus yang bercirikan kesamaan latar belakang dan corak ideologi
tertentu, misal nasionalis, keagamaan, kedaerahan, dsb.
BEM SI bersifat lebih heterogen, yang bergabung di dalamnya berasal dari latar ideologi beragam. Dan pada mulanya boleh jadi bergabung dengan motif yang berbeda.
DEMONSTRASI ELEGAN
Nama besar kampus masing-masing melekat erat pada anggota BEM SI. Sehingga dalam bergerak BEM SI senantiasa berhati-hati agar tidak merusak nama baik kampusnya. Kita bisa saksikan, aksi demonstrasi yang digelar oleh BEM SI senantiasa elegan, berlangsung tertib, tanpa mengganggu ketertiban umum dan tanpa merebut hak publik lainnya.
Jarang sekali kita dengar, demonstrasi BEM SI berakhir ricuh. Kecuali belakangan ini yang sengaja dibuat ricuh oleh tindakan represif aparat.
PRESSURE GROUP BUKAN LOBBYING GROUP
Gaya demonstrasi ala BEM SI selalu diawali dengan pemaparan hasil kajian kritis dan mengedepankan audiensi dengan pemegang kebijakan. Meskipun yang belakangan tidak baik juga jika terus monoton dilakukan, yang demikian justru dapat mereduksi daya tekan BEM SI sebagai sebuah gerakan jalanan.
ada dasarnya gerakan mahasiswa adalah sebuah "Pressure Group" bukan "Lobbying Group". Tugasnya menekan, mempengaruhi kebijakan bukan melakukan tawar menawar harga lalu tancap gas seperti lirik lagu Bang Iwan Fals.
Karenanya diplomasi meja makan ala Presiden Jokowi tidak mempan membungkam BEM SI.
Kalaupun ada satu atau dua perwakilan BEM yang memenuhi undangan makan malam di Istana beberapa waktu lalu, mereka bukan datang dengan tangan kosong kemudian pulang penuh terisi ongkos transport.
Melainkan datang dengan membawa setumpuk kajian kritis memuat kegelisahan rakyat. Berharap yang mulia kepala negara dan para pembantunya berkenan meluangkan waktu membacanya.
LOKOMOTIF DENGAN GERBONG BESAR
BEM SI yang terdiri dari lembaga eksekutif di kampusnya masing-masing memiliki legitimasi yang besar. Ibarat sebuah lokomotif, ketika bergerak BEM SI membawa gerbong berisi mahasiswa yang tidak sedikit.
Lihat saja pasukan aksi BEM SI yang selalu signifikan jumlahnya, bukan belasan orang melainkan ribuan. Meskipun kerap disebut puluhan saja oleh media sampah, Kita maklumi saja barangkali reporternya absen saat mata pelajaran berhitung dulu.
Apalagi ya? Bersambung...
BEM SI bersifat lebih heterogen, yang bergabung di dalamnya berasal dari latar ideologi beragam. Dan pada mulanya boleh jadi bergabung dengan motif yang berbeda.
DEMONSTRASI ELEGAN
Nama besar kampus masing-masing melekat erat pada anggota BEM SI. Sehingga dalam bergerak BEM SI senantiasa berhati-hati agar tidak merusak nama baik kampusnya. Kita bisa saksikan, aksi demonstrasi yang digelar oleh BEM SI senantiasa elegan, berlangsung tertib, tanpa mengganggu ketertiban umum dan tanpa merebut hak publik lainnya.
Jarang sekali kita dengar, demonstrasi BEM SI berakhir ricuh. Kecuali belakangan ini yang sengaja dibuat ricuh oleh tindakan represif aparat.
PRESSURE GROUP BUKAN LOBBYING GROUP
Gaya demonstrasi ala BEM SI selalu diawali dengan pemaparan hasil kajian kritis dan mengedepankan audiensi dengan pemegang kebijakan. Meskipun yang belakangan tidak baik juga jika terus monoton dilakukan, yang demikian justru dapat mereduksi daya tekan BEM SI sebagai sebuah gerakan jalanan.
ada dasarnya gerakan mahasiswa adalah sebuah "Pressure Group" bukan "Lobbying Group". Tugasnya menekan, mempengaruhi kebijakan bukan melakukan tawar menawar harga lalu tancap gas seperti lirik lagu Bang Iwan Fals.
Karenanya diplomasi meja makan ala Presiden Jokowi tidak mempan membungkam BEM SI.
Kalaupun ada satu atau dua perwakilan BEM yang memenuhi undangan makan malam di Istana beberapa waktu lalu, mereka bukan datang dengan tangan kosong kemudian pulang penuh terisi ongkos transport.
Melainkan datang dengan membawa setumpuk kajian kritis memuat kegelisahan rakyat. Berharap yang mulia kepala negara dan para pembantunya berkenan meluangkan waktu membacanya.
LOKOMOTIF DENGAN GERBONG BESAR
BEM SI yang terdiri dari lembaga eksekutif di kampusnya masing-masing memiliki legitimasi yang besar. Ibarat sebuah lokomotif, ketika bergerak BEM SI membawa gerbong berisi mahasiswa yang tidak sedikit.
Lihat saja pasukan aksi BEM SI yang selalu signifikan jumlahnya, bukan belasan orang melainkan ribuan. Meskipun kerap disebut puluhan saja oleh media sampah, Kita maklumi saja barangkali reporternya absen saat mata pelajaran berhitung dulu.
Apalagi ya? Bersambung...
