Sunday, 15 January 2017

Cerita Anak Betawi dan Adab Terhadap Guru



Anak-anak Betawi kampung seperti Saya setidaknya pernah ngaji kitab tipis berjudul "Adabul Insan" ini. Kitab bertuliskan huruf Arab Melayu atau orang Betawi bilang huruf "gundul" ini dikarang oleh Sayyid Utsman bin Yahya (semoga mengalir pahala jariyah padanya), seorang Mufti betawi di zaman pendudukan Hindia Belanda Tempo Doeloe.

Anak-anak kampung sekira usia 6-10 tahunan yang baru mulai mengaji di langgar atau musola lazimnya akan bertemu ini kitab, disamping belajar baca-tulis Alqur'an, fiqh seputar ibadah wajib, hafalan hadits dan do'a-do'a pendek tentunya.

Sebagaimana judulnya, didalamnya dikupas perihal berbagai adab atau akhlaq manusia dalam kehidupan. Diantara yang pertama dibahas ialah mengenai adab menuntut ilmu, baik itu ilmu dunia maupun ilmu syar'i, termasuk didalamnya perkara adab terhadap guru. Dari sanalah, sekarang Saya paham makna sebuah kalimat populer "Adab dulu sebelum ilmu".

Itulah mengapa, kalau kita perhatikan orang-orang Betawi begitu hormat dan takzimnya kepada para guru, terlebih kepada guru agama (ustadz). Sebader-badernya anak Betawi kecilnya, atau segalak-galakya guru sama murid kalau udah ketemu guru itu murid pasti cium tangan, walau sudah pikun itu guru dengan si murid. Benar-benar dicium itu telapak tangan gurunya bukan cuma ditempeli dijidat atau mencium tangan sendiri seperti anak zaman sekarang.

Dalam kitab Adabul Insan misalnya disebut kewajiban orang tua untuk mencarikan guru bagi anak-anaknya, bukan cuma mencarikan tapi juga mengantarkan dan menitipkan anaknya untuk dididik oleh guru.

Oleh karena itu, Guru ialah profesi yang paling dimuliakan di masyarakat Betawi. Minimal setiap tahun jelang Ramadhan dan abis lebaran, orangtua-orangtua betawi sering nyuruh anaknya nganterin hadiah atau makanan ke rumah guru.

Semakin tinggi sebutan atau jabatan orang tua di tengah masyarakat maka semakin tinggi bentuk penghargaan dan penghormatan yang diberikan pada guru.

Nggak ada cerita murid apalagi orang tua yang melecehkan profesi guru baik itu dalam konteks bercanda sekalipun, baik dengan perkataan kasar, cemoohan, makian apalagi sampai memukul guru seperti banyak terjadi belakangan ini.

Jika kepada guru yang membukakan pada kita jendela dunia saja kita tidak mampu "beradab", bagaimana kita mampu beradab pada manusia lainnya?

Lubang Buaya, 15 Januari 2017


Kontak

Tetap terhubung dengan Saya


Alamat Rumah

Jl. Kramat, No.42, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur 13810

Nomor Ponsel

+(62) 838 1365 1836

Website

www.sulaemansaleh.my.id