Thursday, 1 October 2015

Mempertanyakan Sila Ketuhanan YME Dalam Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2015



Sebagai warga negara Indonesia yang sejak lahir tinggal di daerah Lubang Buaya, tanggal 1 Oktober mempunyai arti sendiri Bagi Saya.

Setiap tanggal 1 Oktober bangsa Indonesia memperingati hari kesaktian pancasila, mengenang kegagahan pancasila  memberangus aksi pengkhianatan PKI 30 September 1965 silam. Mengenang 7 pahlawan revolusi yangg mnjadi korban kebiadaban PKI.

Kisah pengkhianatan PKI telah Saya dengar sejak kecil, bukan dari media propaganda Orde Baru (yang kerap berlebihan) melainkan mendengar langsung dari Bapak Saya yang pada tragedi 1965 silam sudah berusia 16 Th.

Cerita Bapak Saya, Lubang Buaya saat itu masih dipenuhi hutan bambu dan karet. Penduduknya masih amat sedikit, diantaranya keluarga Kakek Saya yang juga salahsatu tokoh Agama di Lubang Buaya.

Awalnya warga mengira Lubang Buaya dijadikan tempat latihan TNI, beberapa rumah warga disewa sebagai barak. Rumah-rumah tersebut sekarang berada di dalam lingkungan monumen pancasila sakti.

Semakin lama tentara yang latihan jumlahnya makin bertambah, dari logat bicaranya kemungkinan didatangkan dari jawa. Anehnya, tentara latihan koq gak pake seragam, kata Bapak Saya keheranan.

Setiap habis maghrib, remaja seusia Bapak digiring ke lokasi. Diajak makan malam bareng, habis makan kemudian nonton layar tancep bareng, judul filmnya Bapak kurang ngerti, tahunya cuma filmnya adalah film barat yang diulang-ulang terus. Namanya anak remaja senang saja dikasih makan gratis, gak ngerti klo isi filmnya  ternyata propaganda komunis.

Sampai akhirnya warga mendengar kabar peristiwa G30S dari Radio, warga baru sadar bahwa yang latihan militer selama ini bukan tentara melainkan PKI yang sedang menyiapkan makar. Alhamdulillah, tidak sperti di daerah lain yang banyak warga awam menjadi korban salah tangkap dalam operasi pemberantasan PKI krna disangka terlibat. Di Lubang Buaya, warga bekerjasama dengan tentara diantaranya menunjukkan sumur warga yang dijadikan tempat menimbun jasad para korban dan lokasi barak-barak PKI.

Bicara soal 1 oktober, Sejak SD hingga SMA saya rutin ikut upacara di monumen pancasila sakti, Karena postur badan yg tinggi besar Saya selalu terpilih jd peserta upacara. Seminggu sebelum hari H, Kami sdh mulai latihan upacara brsama tentara & PNS. Namanya juga anak sekolah, meski panas-panasan belajar baris berbaris di lapangan senang saja slama seminggu gak ikut KBM demi upacara.

H-1 seusai gladi resik peserta dikasih vitamin yang harus diminum agar besoknya fit saat upacara, tapi namanya juga usia anak-anak ada saja yang jatuh pingsan saat upacara.

Beruntung juga krna postur yang tinggi, Saya selalu kebagian baris paling depan yang berarti bisa ngelihat & salaman dengan presiden, pejabat, & tamu kehormatan lainnya. Betapa bangganya Saya pernah salaman dgn presiden mulai dari Pak Harto, hingga Gusdur. Sampai akhirnya kebanggan Saya luntur sejak 1 oktober 2008

1 oktober 2008 bertepatan dengan hari idul fitri 1429H. Karena pagi harinya ummat islam melangsungkan ibadah sholat id, upacara peringatan kesaktian pancasila dilakukan tengah malam lewat pukul 00.00.

Satu hal yg mengganggu bagi Saya ialah saat upacara brlangsung seluruh masjid di sekitar lubang buaya tidak diperkenankan mngumandangkan takbir hari raya. Luar biasa! upacara memperingati kesaktian pancasila lebih penting dari mengagungkan Asma Allah di hari idul fitri. Saya hanya beristighfar saat itu, memohon ampun seraya memohon pada Allah agar peristiwa seperti ini tidak terulang kembali.

Dan pagi ini 1 Oktober 2015 peristiwa tidak mengenakkan itu terulang kembali. Pagi tadi Saya bangun sebelum pukul 4, kemudian membngunkan istri untuk sholat tahajud kemudian menunggu adzan subuh berkumandang. Namun adzan subuh yg ditunggu tak juga berkumandang, mungkin speaker masjid sedang rusak pikir Saya.

Tapi alangkah kagetnya, pagi tadi seorang teman mendapat konfirmasi dari muadzin bahwa adzan sengaja tidak dikumandangkan dgn speaker luar karna adanya surat edaran dr panitia upacara 1 oktober  kpda pngurus masjid. Beberapa masjid di lingkungan lubang buaya tidak diperkenankan menggunakan speaker luar untuk mengumandangkan adzan sejak adzan isya kemarin hingga subuh tadi.

Innalillahi, Apa korelasinya dgn upacara yang baru digelar pukul 8 pagi dengan dilarangnya penggunaaan speaker masjid sejak isya hingga subuh?

Sejak lahir hingga sekarang Saya berusia 25 Tahun tinggal di Lubang Buaya, baru kali ini ada aturan   pelarangan menggunakan speaker seperti ini.

Bukankah sila pertama dari Pancasila ialah Ketuhanan YME?

Lantas, mengapa di hari kesaktian pancasila justru kebebasan menjalankan ibadah sebagai perwujudan sila Ketuhanan YME dilarang?

Kepada kita semua yang mengaku mencintai tanah air Indonesia ini, mari renungkan kembali makna kalimat "atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa" yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 yg kerap dibacakan setiap upacara. Dan renungkan bagaimana nasib bangsa ini seandainya rahmat Allah tersebut dicabut-NYA atas bangsa ini akibat kesombongan segelintir manusia dalam sebuah seremonial upacara. Na’udzubullahi min dzalik.


Sulaeman Saleh
Lubang Buaya, 1 Okober 2015


Kontak

Tetap terhubung dengan Saya


Alamat Rumah

Jl. Kramat, No.42, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur 13810

Nomor Ponsel

+(62) 838 1365 1836

Website

www.sulaemansaleh.my.id