247 Kampus abal-abal dinonaktifkan oleh DIKTI, begitu kira-kira yang ramai-ramai diberitakan media mainstream 2 hari ini.
Menjadi akhir dari istilah mahasiswa abal-abal, wisuda abal-abal, dan kampus abal-abal yang mendadak akrab di telinga kita. Menyusul sebuah video yang mendadak viral pekan lalu, video yang menayangkan keluguan seorang wisudawati (yang kemudian disematkan gelar wisudawati abal-abal padanya) tatkala ditanya perihal prosesi wisuda yang tengah diikutinya.
Setelah itu kata abal-abal terus ditulis, ditayangkan, disebarkan berulang-ulang di media massa dan media sosial. Tanpa sadar dan berupaya kritis terhadap informasi, kita pun ikut mempopulerkan istilah abal-abal tersebut.
Namun, tahukah kita? Apa sebenarnya alasan dinonaktifkannya kampus-kampus yang terlanjur dilabeli istilah abal-abal tersebut?
Kampus-kampus tersebut memang bukan termasuk kampus papan atas yang tiap tahun ribuan calon mahasiswa berebut masuk dengan segala cara.
Ya, termasuk cara tidak halal diantaranya pakai jasa joki ujian seperti terungkap beberapa waktu lalu di sebuah kampus papan atas di kota Yogyakarta.
Kampus tersebut memang bukan kampus negeri yang didalamnya duduk banyak profesor, menghasilkan ribuan doktor dan sarjana kesohor. Tapi janngan lupakan bahwa kampus-kampus negeri juga menjadi penyumbang jumlah koruptor.
Kampus tersebut memang bukan kampus bergengsi yang parkiran mobilnya selalu penuh terisi, meskipun dibanyak Kampus pemerintah memberlakukan sistem UKT. Faktanya kuliah di kampus bergengsi masih menjadi barang mahal bagi sebagian besar masyarakat.
Bukan kampus papan atas, bukan kampus negeri, bukan kampus bergengsi bukan berarti kampus-kampus tersebut adalah kampus abal-abal!
Banyak diantara sahabat kita yang kurang beruntung dalam faktor ekonomi. Kemudian menyisihkan sedikit demi sedikit tabungannya agar dapat mengenyam bangku kuliah ditengah lelahnya bekerja seharian, atau dipenghujung pekan. Kampus-kampus yang katanya abal-abal ini lah yang menjadi solusi bagi mereka.
Dan kita terlanjur melabeli mereka dengan sebutan mahasiswa abal-abal yang kuliah di kampus abal-abal.
Bagi Saya, sebutan kampus abal-abal itu lebih layak disematkan bagi kampus yang mahasiswanya sudah capek-capek bersaing ikut ujian masuk, sudah bayar biaya kuliah mahal-mahal, berjas almamater rapi, pakai minyak wangi tapi cuma haha hihi nonton komedi di stasiun TV.
Dan bagi Saya, sebutan mahasiswa abal-abal lebih layak disematkan bagi adik-adik mahasiswa yang sedang membaca tulisan ini kemudian tidak bergetar nuraninya, tidak terketuk hatinya ketika sebagian rekan mahasiswa yang tidak seberuntung dirinya kini tidak jelas lagi harus menutut ilmu dimana.
Sulaeman Saleh
Lubang Buaya, 3 Oktober 2015
