Kepentingan AS
Ekonomi AS sangat tergantung pada sektor Energi, untuk memenuhi kebutuhan konsumsi rakyat & industrinya AS membutuhkan 22 juta barel minyak perhari. sementara produksi energi dalam negeri tidak sampai 25%nya. Untuk itu AS perlu terus mencengkramkan kuasanya atas negeri-negeri kaya minyak.
Untuk menghalau pengaruh pesaingnya di seantero dunia. Di Afrika, AS memanfaatkan berbagai situasi konflik sektarian di benua hitam tersebut seperti Boko Haram dan juga isu merebaknya virus Ebola. Demi mencegah investasi & eksplorasi lebih besar terhadap kekayaan energi di benua Afrika khususnya oleh RRT (Republik Rakyat Tiongkok). Untuk mengamankan pengaruhnya di Afrika AS juga berperan penting dalam mendanai kudeta di Mesir dan menjadikan As Sisi sebagai aktor pengaman kepentingan AS di benua Afrika dan Timur Tengah.
Kebangkitan RRT
Fakta yang jarang diketahui ialah ladang minyak di Afrika kini banyak dikuasai oleh RRT. RRT tumbuh menjadi negara besar yang siap merebut pengaruh Amerika di dunia, khususnya di benua Asia & Afrika. Secara ideologis, RRT memiliki kesamaan dengan musuh lama AS yaitu Rusia yang juga menganut ideologi komunis. Berbeda dengan soviet yang dulu dihancurkan oleh AS di Afghanistan melalui operasi militer dan pemecah belahan negara-negara balkan, secara ideologis RRT dibiarkan menganut komunis namun dibuat desain agar ekonominya RRT menggunakan sistem liberal agar senantiasa bergantung dan mudah dikendalikan oleh AS. Keputusan AS tersebut kini menjadi blunder, karena ekonomi RRT justru tumbuh pesat menyaingi AS dan menjadi kekuatan besar di kawasan Asia dan Afrika.
Embargo Rusia
Sementara itu Rusia mulai membangun kembali infrastruktur energinya untuk menguasai jalur perdagangan minyak. Konflik di Ukraina & ditembak jatuhnya pesawat MAS yang seolah dilakukan oleh milisi Pro Rusia adalah operasi AS untuk kembali menghantam rusia. Pasca tragedi tsb, rusia kembali di embargo. Bahkan nilai tukar mata uang rusia terjun bebas hingga 3x lipat hingga perekonomiannya kini kembali kacau balau.
Uni Eropa, Lawan Tapi Mesra.
Selain RRT & Rusia, saingan AS berikutnya adalah Uni Eropa yang mulai mencengkramkan pengaruhnya di negara2 timur tengah dan uni emirat arab. Dibanding dengan RRT & Rusia, UE lebih dekat dengan AS dari sisi ideologis. Sehingga di beberapa operasi AS & UE bekerjasama untuk mngamankan pengaruh di timur tengah. AS & UE misalnya terbukti turut mendanai operasi kudeta di mesir dan setelah sukses juga berupaya menggulirkan kudeta di turki dengan memunculkan konflik politik & sektarian kurdistan. AS dan UE juga Membiayai konflik berkepanjangan sunni-syi'ah di Suriah & Iraq serta memunculkan ISIS sebagai aktor "pengganggu" stabilitas kawasan.
Dan yang terkini mengacaukan Yaman dengan memanfaatkan milisi Houti untuk menarik Arab Saudi agar terlibat hingga konflik meluas dan berkepanjangan. Yang terakhir tidak berhasil, karena Raja Salman memutuskan menarik Arab Saudi dari perang Yaman. Perlu diketahui, 70% ladang minyak di Suriah dan Iraq kini dikuasasi ISIS dan dijual sangat murah kepada AS untuk membiayai "perang-perangan" antar boneka bentukan AS-UE. Akibatnya, produksi minyak negara OPEC lainnya menjadi berlimpah (tidak laku) sehingga harganya terjun bebas dan sukses mengganggu stabilitas ekonomi negara2 OPEC seperti Indonesia.
Ditengah konflik ekonomi-politik global ini, bagaimana nasib Indonesia?
