Pondok gede adalah sebuah kota kecil perbatasan antara kota
Bekasi dan jakarta timur dahulu kala terdapat bangunan kuno besar yang
disebut Pondok Gede. Nama itulah yang menjadi asal nama Jalan Pondok
Gede Raya sekarang, menurut sejarah gedung Pondok Gede dibangun oleh
Pendeta Johannes Hooyman sekitar 1775.
Bentuk gedung ini sangat panjang dengan atap sangat besar. Lantai satu dibangun dalam gaya Indonesia terbuka dengan serambi pada ketiga sisinya (joglo). Sementara bagian depan yang bertingkat dua dibangun dengan gaya tertutup Belanda. Rumah kombinasi dua gaya ini, dulu sangat lazim pada rumah-rumah tuan tanah.
Menurut Adolf Heuken dalam bukunya Tempat-tempat Bersejarah di
Jakarta, interior rumah ini pernah menunjukkan citarasa tinggi.
Plesteran terdapat pada beberapa ruangan dan serambi, ditambah aneka
hiasan pada pintu dan kusen jendela. Di tanah ini terdapat makam
Leendert Miero, yang pada 1800 membeli tanah Pondok Gede. Miero adalah
seorang Yahudi Polandia yang kaya raya. Sebelum Pondok Gede dirobohkan,
batu nisan Miero masih terlihat. Namun kemudian ikut menjadi korban
vandalisme.
Sebenarnya,
Pondok Gede hendak dipugar oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta.
Survei arkeologi pernah dilaksanakan pada Januari 1988. Dari survei itu
diketahui bahwa luas tanah mencapai 325 hektar, semula merupakan
perkebunan sereh. Setelah berpindah tangan ke CV Handel, beralih menjadi
perkebunan karet. Pada 1946 berpindah tangan lagi ke NV Pago Rado dan
pada 1962 dibeli oleh TNI AU (Inkopau). Menurut laporan survei tersebut,
Pondok Gede banyak dikunjungi wisatawan mancanegara terutama dari
Australia dan Belanda.
Sampai 1992 bangunan itu masih ada. Namun tiba-tiba dibongkar untuk
digantikan sebuah gedung pertokoan modern. Padahal, bangunan itu
dilindungi oleh Undang-undang Kepurbakalaan. Memang, sejak lama Jakarta
ibarat telah menjadi ’kota gila’, sebagaimana diistilahkan para arsitek.
Begitu sering terjadi penghancuran bangunan berarsitektur khusus di
sini. sungguh sangat disayangkan.
Sumber : http://www.ayobekasi.com/pondok-gede-sejarah-yang-hilang/