Monday, 19 December 2011

Goresan Ukhuwah yang Tak Terlupakan, untuk Saudaraku Fahrur Rozi




The Legend of "Aang"

“Siapa sangka anak kecil yang terkubur dalam bongkahan es ratusan tahun itu adalah seorang Avatar yang melegenda. Dialah Aang sang pengendali udara yang kelak akan  menyelamatkan dunia dari kekacauan Negara api.” Begitu kira-kira sepenggal resume kisah komik yang di-layar kaca-kan.


Kami juga punya “Aang” Kami sendiri. Sapaan akrab untuk bocah kecil banyolis dengan suara khas negara asalnya Puerto Rico (baca: Purwokerto) yang selalu menggelitik setiap perbincangan Kami bersamanya. Bedanya, “Aang” Kami tidak terkubur dalam bongkahan es, melainkan kini telah terbujur manis didalam tanah. Ya, Ia telah tiada namun biarlah kami tetap memanggilnya “Aang” agar Ia tetap menjadi legenda seperti Avatar, karena hanya sang legenda yang tak pernah mati, meskipun usianya telah berakhir.

Perkenalan Kami dengan “Aang” dimulai beberapa tahun silam di Masjid Darul Ilmi, “Nama Ane Fahrur Rozi, Divisi Kreasi FIKRI, asal dari Purwokerto”. Ya, dari penampilannya yang lusuh sudah terlihat jelas bahwa Ia anak perantauan yang tinggal jauh dari orangtuanya demi menuntut ilmu ke Negeri Depok. Belakangan, Kami tahu bahwa “Aang” tinggal hanya berdua dengan Abangnya di sebuah rumah sederhana di daerah Cilebut, Bogor. Dekat dari stasiun Cilebut, hanya sekitar setengah jam kalau jalan kaki, kata “Aang” yang memang seringkali jalan kaki menuju stasiun karena angkot yang melum beroperasi selepas subuh sedang jam 6 pagi “Aang” harus tiba di kampus untuk melakukan aktivitas rutinnya di sekret FIKRI. Beruntungnya, tidak setiap hari “Aang” harus jalan kaki, karena kadang Ia bisa menunggang motor Honda butut zaman jadulnya yang dijamin bikin Polisi males nilang.

Jejak da’wahnya di  PNJ dimulai sebagai anggota Divisi Kreasi, anggota Teater Pelangi, kemudian di tingkat 2 berlanjut sebagai Kadiv Kreasi. Pernah juga, mengemban amanah sebagai Project Officer FIVA (Fikri Vaganza) sebuah kepanitiaan berdarah-darah alias event pentas seni Islam terbesar UKM FIKRI di masa kepengurusan itu. Hingga saat itu, Track Record da’wahnya dirasa memang sangat sesuai dengan kepribadiannya yang ekspresif & enerjik. Hingga tak seorangpun menyangka di tingkat 3, “Aang” dipercaya mengemban sebuah amanah besar sebagai salahsatu punggawa da’wah kampus Politeknik.

“Mencerdaskan Orang Soleh, dan Mensolehkan Orang Cerdas”, sebuah kalimat sederhana yang kerap keluar dari percakapan bersamanya. Sebuah mimpi besar dari seorang “Aang” yang bertubuh kecil. Kalimat sederhana yang kini  berkontribusi besar terhadap arah perkembangan da’wah Politeknik. Lini Akademik dan Profesi yang lama kian tidak jelas arahnya kini telah menemukan bentuknya, arah yang jelas dan sistem kerja yang terstruktur rapi. Di zaman kepemimpinannya Poltek masuk sebagai satu-satunya kampus DIII yang aktif berkontribusi di MITI-M, sebuah wajihah  ‘ilmiy berskala nasional diantara  50 anggota lainnya yang kesemuanya merupakan Universitas,  bahkan PNJ menjadi pelopor keikutsertaan Kampus DIII lainnya, misal Polines-Semarang dan Polban-Bandung. Tidak disangka dibalik sosok banyolisnya “Aang” adalah seorang kader yang cerdas, gagasan-gagasannya selalu menarik, bahkan seringkali memberikan solusi yang tak terpikirkan. Ditengah kebuntuan, kadang sesekali sosok banyolisnya masih suka muncul tiba-tiba memecah ketegangan.

Sebagai seorang pemimpin “Aang” seringkali mengerjakan pekerjaan da’wahnya sendirian, bukan karena ingin memborong pahala tapi katanya “Aang” tidak mau merepotkan orang lain meskipun staff da’wahnya sendiri. Pernah beberapa kali Kami memarahinya karena sifatnya yang satu ini, sifat yang tidak mau berbagi masalah dengan orang lain, misal ketika memikirkan kader yang harus melunasi biaya kuliah, seringkali “Aang” berfikir keras memikirkan nominal uang yang tidak kecil itu sendirian, bahkan bergerilya kesana-kemari mencari donatur juga dilakoninya sendirian. Pribadinya yang ramah, lucu dan supel menyebabkan “Aang” menjadi tempat curhatan favorit banyak kader khususnya seputar masalah akademik.

Sifat suka menyendiri dan enggan merepotkan oranglain ternyata dipertahankan hingga akhir hayatnya. “Aang” sempat berpesan ingin beristirahat dan tak ingin diganggu kepada rekan kerjanya sehari sebelum maut menjemputnya. Hingga rekan kerjanya membiarkan “Aang” tidak keluar kamar pagi itu. Namun, hingga adzan Dzuhur berkumandang  “Aang” rupanya belum juga bangun dari tidurnya,  akhirnya pukul 2 Siang rekannya baru menyadari kalau “Aang” sudah wafat dalam keadaan tertidur di kamarnya. Hasil visum dari dokter RSCM menyatakan “Aang” diperkirakan wafat sebelum waktu subuh tiba, Innalillahi..12 Jam lebih kematiannya tidak diketahui oleh seorangpun.


Semoga kepergian "Aang" yang tidak Kami ketahui bukan karena ikatan ukhuwah Kami yang lemah melainkan takdir Allah yang menghendaki sebuah kepegian yang indah, kepergian yang tenang dan tidak merepotkan siapapun. Kepergian yang mampu menghentak Kami dari keterasyikkan bermaksiat kepada Allah. Keterasyikkan melalaikan karunia waktu yang Allah berikan dengan kesia-siaan sedang begitu banyak pekerjaan da'wah yang menanti untuk dituntaskan. Keteraksikan yang melalaikan Kami bahwasanya Al-Maut bisa kapan saja menjemput Kami, sebagaimana telah menjemput "Aang" dalam diam.

*sebuah testimoni untuk saudaraku Fahrurrozi, Selamat jalan pejuang da'wah terbaik Politeknik..Allahummaj’al Qobrohu Roudoh min Riyadil Jannah.


Sulaeman Saleh
Lubang Buaya, 19 Desember 2011

Kontak

Tetap terhubung dengan Saya


Alamat Rumah

Jl. Kramat, No.42, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur 13810

Nomor Ponsel

+(62) 838 1365 1836

Website

www.sulaemansaleh.my.id