Wednesday, 3 August 2011

AL-FIDA dan Kenangan Bersama Kami



3 Ramadhan 1432 H,

Seperti biasa dalam perjalanan pulang kerja Saya selalu menyempatkan diri untuk mampir di tempat ini untuk menunaikan sholat maghrib. Masjid Al-Fida, yang terletak di pinggir Jl. Raya Halim Perdana Kusumah tidaklah begitu besar namun halaman parkirnya yang luas membuat banyak pengendara mobil & sepeda motor memilih masjid ini untuk menunaikan sholat maghrib, disamping itu selepas sholat maghrib di masjid ini selalu diiringi dengan tausiyah yang diisi bergantian oleh para jama’ah.

Berbeda dengan hari-hari sebelumnnya, selama bulan Ramadhan di Masjid ini pun digelar ta’jil bersama. Alhamdulillah, Saya termasuk orang yang rutin kebagian ta’jil di Masjid ini. Duduk melingkar saling  berhadapan dengan the manis hangat dan sedikit penganan kecil di piring yang dinikmati bersama para jama’ah untuk membatalkan puasa mereka, sungguh nampak suasana persaudaraan diantara Kami meskipun Kami tidak saling mengenal akrab satu sama lain.

Tiba-tiba Saya termenung sejenak, dengan pikiran yang melayang jauh kepada ingatan beberapa tahun silam ketika Saya bermalam di masjid Al-Fida ini bersama teman-teman seperjuangan di SMA. Saya ingat persis tengah malam itu Kami menyantap hidangan sate bersama selepas mengikuti tausiyah bertemakan tarhib ramadhan bahkan Saya masih punya catatan materi tausiyah itu lengkap di rumah perihal apa saja yang perlu dipersiapkan menjelang Ramadhan. Malam itu Saya ingat persis tanggalnya yaitu 1 Oktober 2005, karena tepat keesokan harinya diperjalanan pulang Kami baru tahu bahwa malam itu pula terjadi ledakan bom di Bali untuk kedua kalinya.

Lamunan ini bukan tentang nikmatnya sate yang kami lahap malam itu, bukan tentang materi yang Kami terima sambil manggut-manggut karena menahan kantuk, bukan pula tentang pertandingan bola keesokan paginya yang entah Kami kalah dengan skor berapa saat itu, tapi tentang sebuah kenangan perjalanan kebersamaan Kami. Kalau dikenang jauh kebelakang, ternyata Kami begitu sering bermalam bersama di masjid dan ada saja kenangan-kenangan  yang sulit dilupakan ditengah aktivitas bermalam tersebut. Berteman akrab dengan nyamuk-nyamuk Masjid yang mengganas karena Kami lupa bawa lotion antyi nyamuk, kenangan tragis saat Kami diusir satpam hingga terpaksa berbaring diatas rumput halaman Masjid semalaman. Ada pula, Saudara Saya yang disangka tukang becak karena ketiduran di teras Masjid selepas sholat subuh.

Terlepas dari segala kenangan lucu hingga “tragis” disaat Kami bermalam bersama, yang jelas sulit dilupakan ialah ketika jalinan persaudaraan Kami semakin erat terbangun ditengah aktivitas bermalam Kami.  Ternyata benar hadits Rosulullah yang menyebutkan salahsatu cara mengenal karakter seorang saudara muslim ialah dengan bermalam bersamanya. 

Semoga Allah mempertemukan Kami kembali di penghujung 10 hari terakhir Ramadhan kali ini, untuk menjemput Lailatul Qodar bersama.

Amiin.

Sulaeman Saleh
Luban Buaya, 3 Agustus 2011

Kontak

Tetap terhubung dengan Saya


Alamat Rumah

Jl. Kramat, No.42, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur 13810

Nomor Ponsel

+(62) 838 1365 1836

Website

www.sulaemansaleh.my.id