3 Ramadhan 1432 H,
Seperti
biasa dalam perjalanan pulang kerja Saya selalu menyempatkan diri untuk
mampir di tempat ini untuk menunaikan sholat maghrib. Masjid Al-Fida,
yang terletak di pinggir Jl. Raya Halim Perdana Kusumah tidaklah begitu
besar namun halaman parkirnya yang luas membuat banyak pengendara mobil
& sepeda motor memilih masjid ini untuk menunaikan sholat maghrib,
disamping itu selepas sholat maghrib di masjid ini selalu diiringi
dengan tausiyah yang diisi bergantian oleh para jama’ah.
Berbeda
dengan hari-hari sebelumnnya, selama bulan Ramadhan di Masjid ini pun
digelar ta’jil bersama. Alhamdulillah, Saya termasuk orang yang rutin
kebagian ta’jil di Masjid ini. Duduk melingkar saling berhadapan dengan
the manis hangat dan sedikit penganan kecil di piring yang dinikmati
bersama para jama’ah untuk membatalkan puasa mereka, sungguh nampak
suasana persaudaraan diantara Kami meskipun Kami tidak saling mengenal
akrab satu sama lain.
Tiba-tiba Saya termenung sejenak,
dengan pikiran yang melayang jauh kepada ingatan beberapa tahun silam
ketika Saya bermalam di masjid Al-Fida ini bersama teman-teman
seperjuangan di SMA. Saya ingat persis tengah malam itu Kami menyantap
hidangan sate bersama selepas mengikuti tausiyah bertemakan tarhib
ramadhan bahkan Saya masih punya catatan materi tausiyah itu lengkap di
rumah perihal apa saja yang perlu dipersiapkan menjelang Ramadhan. Malam
itu Saya ingat persis tanggalnya yaitu 1 Oktober 2005, karena tepat
keesokan harinya diperjalanan pulang Kami baru tahu bahwa malam itu pula
terjadi ledakan bom di Bali untuk kedua kalinya.
Lamunan
ini bukan tentang nikmatnya sate yang kami lahap malam itu, bukan
tentang materi yang Kami terima sambil manggut-manggut karena menahan
kantuk, bukan pula tentang pertandingan bola keesokan paginya yang entah
Kami kalah dengan skor berapa saat itu, tapi tentang sebuah kenangan
perjalanan kebersamaan Kami. Kalau dikenang jauh kebelakang, ternyata
Kami begitu sering bermalam bersama di masjid dan ada saja
kenangan-kenangan yang sulit dilupakan ditengah aktivitas bermalam
tersebut. Berteman akrab dengan nyamuk-nyamuk Masjid yang mengganas
karena Kami lupa bawa lotion antyi nyamuk, kenangan tragis saat Kami
diusir satpam hingga terpaksa berbaring diatas rumput halaman Masjid
semalaman. Ada pula, Saudara Saya yang disangka tukang becak karena
ketiduran di teras Masjid selepas sholat subuh.
Terlepas
dari segala kenangan lucu hingga “tragis” disaat Kami bermalam bersama,
yang jelas sulit dilupakan ialah ketika jalinan persaudaraan Kami
semakin erat terbangun ditengah aktivitas bermalam Kami. Ternyata benar
hadits Rosulullah yang menyebutkan salahsatu cara mengenal karakter
seorang saudara muslim ialah dengan bermalam bersamanya.
Semoga
Allah mempertemukan Kami kembali di penghujung 10 hari terakhir
Ramadhan kali ini, untuk menjemput Lailatul Qodar bersama.
Amiin.
Sulaeman Saleh
Luban Buaya, 3 Agustus 2011
