Jika kebanyakan kita sepakat bahwa empat hari KPSPP tidak cukup untuk
mengubah cara befikir para mahasiswa baru tentang kehidupan kampus
sebenarnya, tidak mampu menghadirkan motivasi bagi mereka untuk
berkuliah di Politeknik selanjutnya atau mengubah rasa “tidak cinta”
mereka menjadi “sangat cinta” kepada jurusan atau program studi yang
diambil, lalu suplemen apa yang tepat untuk melengkapi berbagai hal yang
tidak dapat diwujudkan dalam KPSPP sebagaimana tersebut diatas?
Selepas KPSPP, sebenarnya masih ada satu rangkaian kegiatan lagi yang seharusnya diikuti oleh mahasiswa baru yaitu Sosialisasi Jurusan (Sosjur). Dalam rangkaian acara Sojur inilah kita berusaha menghadirkan berbagai hal yang tidak diperoleh mahasiswa ketika KPSPP. Mengubah cara pandang, meberi motivasi dan mengubah kata “tidak cinta” menjadi “sangat cinta” kepada jurusan atau program studi yang mereka pilih.
Namun, entah mengapa semakin lama pelaksanaan Sosjur pun mulai kehilangan pendukungnya. Seakan kegiatan Sosjur menjadi seuatu yang harus dihindarkan dari mahasiswa baru. Mengapa kebanyakan kita hanya memandang Sosjur sebagai tradisi tahunan antara senior dengan juniornya? Padahal begitu banyak muatan positif yang bisa diberikan melalui Sosialisasi Jurusan.
Mari bersama-sama mengubah sudut pandang kita semua terhadap Sosialisasi jurusan, karena seharusnya Sosjur bukan sekedar menjadi tradisi tahunan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya melainkan menjadi sebuah kebutuhan bagi mahasiswa baru yang harus diwujudkan bersama.
Pelaksanaan Sosjur tahun ini yang “kebetulan” sangat berdekatan dengan bulan puasa, seharusnya bisa menjadi momentum bersama untuk mengubah sudut pandang semua pihak terhadap pelaksanaan Sosilaisasi Jurusan 2009. Mengapa tidak, bila antara pihak-pihak yang selama ini berbeda pandangan mengenai Sojur twrsebut duduk bersama, kemudian bersama pula merumuskan Formula terbaik dalam pelaksanaan Sosjur kali ini. Pelaksanaan yang bertepatan dengan bulan puasa seharusnya tidak menjadi halangan justru sebaliknya pelaksanaan Sosjur di Bulan Puasa, seharusnya menjadi pemicu kita untuk mejadikan Sosjur sebagai sarana menebar kebaikan dan menuai pahala di bulan penuh berkah.
Menjadikan Sosjur sebagai sarana menebar kebaikan dan menuai pahala sepertinya bukan menjadi suatu hal yang tidak mungkin. Selain muatan acara yang bertujuan meningkatkan motivasi sebagaimana telah disebutkan diatas, bisa saja sosjur dirangkai dengan kegiatan Bimbingan Rohani, Bakti Sosial, Buka Puasa Bersama, dan lain sebagainya. Bukankah memfasilitasi orang lain unuk berbuat kebaikan pun akan mendapat ganjaran kebaikan yang serupa pula.
Jadi, saatnya mengubah sudut pandang kita bahwa Sosjur bukanlah sekedar tradisi melainkan sebuah kebutuhan yang pelaksanaannya menjadi tanggung jawab bersama semua pihak baik mahasiswa, dosen, dan pembuat kebijakan baik kampus maupun jurusan. Betapa bahagianya bila semua pihak (elemen kampus) dapat menyamakan persepsi, kemudian bersinergi tentulah akan tercipta kondisi yang lebih kondusif demi mewujudkan PNJ yang berpestasi, sebagaimana dimaksud dalam visi Politeknik Negeri Jakarta.
Selepas KPSPP, sebenarnya masih ada satu rangkaian kegiatan lagi yang seharusnya diikuti oleh mahasiswa baru yaitu Sosialisasi Jurusan (Sosjur). Dalam rangkaian acara Sojur inilah kita berusaha menghadirkan berbagai hal yang tidak diperoleh mahasiswa ketika KPSPP. Mengubah cara pandang, meberi motivasi dan mengubah kata “tidak cinta” menjadi “sangat cinta” kepada jurusan atau program studi yang mereka pilih.
Namun, entah mengapa semakin lama pelaksanaan Sosjur pun mulai kehilangan pendukungnya. Seakan kegiatan Sosjur menjadi seuatu yang harus dihindarkan dari mahasiswa baru. Mengapa kebanyakan kita hanya memandang Sosjur sebagai tradisi tahunan antara senior dengan juniornya? Padahal begitu banyak muatan positif yang bisa diberikan melalui Sosialisasi Jurusan.
Mari bersama-sama mengubah sudut pandang kita semua terhadap Sosialisasi jurusan, karena seharusnya Sosjur bukan sekedar menjadi tradisi tahunan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya melainkan menjadi sebuah kebutuhan bagi mahasiswa baru yang harus diwujudkan bersama.
Pelaksanaan Sosjur tahun ini yang “kebetulan” sangat berdekatan dengan bulan puasa, seharusnya bisa menjadi momentum bersama untuk mengubah sudut pandang semua pihak terhadap pelaksanaan Sosilaisasi Jurusan 2009. Mengapa tidak, bila antara pihak-pihak yang selama ini berbeda pandangan mengenai Sojur twrsebut duduk bersama, kemudian bersama pula merumuskan Formula terbaik dalam pelaksanaan Sosjur kali ini. Pelaksanaan yang bertepatan dengan bulan puasa seharusnya tidak menjadi halangan justru sebaliknya pelaksanaan Sosjur di Bulan Puasa, seharusnya menjadi pemicu kita untuk mejadikan Sosjur sebagai sarana menebar kebaikan dan menuai pahala di bulan penuh berkah.
Menjadikan Sosjur sebagai sarana menebar kebaikan dan menuai pahala sepertinya bukan menjadi suatu hal yang tidak mungkin. Selain muatan acara yang bertujuan meningkatkan motivasi sebagaimana telah disebutkan diatas, bisa saja sosjur dirangkai dengan kegiatan Bimbingan Rohani, Bakti Sosial, Buka Puasa Bersama, dan lain sebagainya. Bukankah memfasilitasi orang lain unuk berbuat kebaikan pun akan mendapat ganjaran kebaikan yang serupa pula.
Jadi, saatnya mengubah sudut pandang kita bahwa Sosjur bukanlah sekedar tradisi melainkan sebuah kebutuhan yang pelaksanaannya menjadi tanggung jawab bersama semua pihak baik mahasiswa, dosen, dan pembuat kebijakan baik kampus maupun jurusan. Betapa bahagianya bila semua pihak (elemen kampus) dapat menyamakan persepsi, kemudian bersinergi tentulah akan tercipta kondisi yang lebih kondusif demi mewujudkan PNJ yang berpestasi, sebagaimana dimaksud dalam visi Politeknik Negeri Jakarta.
Sulaeman Saleh
Depok, 20 Juli 2009
