Friday, 24 February 2017

Mendadak Salman



Anak kedua Kami ini namanya Salman Dzulhajj Saleh. Anak Kami lahir tepat 16 hari setelah tragedi mina di musim haji 2015. Namanya terinspirasi dari Raja Salman yang kala itu tengah mendapat ujian. Musibah Mina yang mewafatkan sebanyak 769 jamaah haji (berdasarkan laporan resmi kerajaan Saudi Arabia, sedang beberapa sumber lain menyebut jumlah korban diatas 2000an).
Dalam musibah tersebut Raja Salman mendapat sorotan tajam dari dunia internasional. Raja Salman dinilai gagal mengelola hajatan ter-akbar ummat islam di usia pemerintahannya yang baru berusia 8 bulan.

Hoax bahwa Putra Raja Salman yang menjadi penyebab tragedi tersebut pun sempat menyeruak menjadi bumbu pemberitaan. Kekuasaan Raja Salman diguncang hebat baik dari dalam negerinya maupun dari luar negeri. Namun, lagi-lagi Raja Salman dapat keluar dengan selamat dari beragam fitnah yang ditujukan padanya.

Tragedi Mina merupakan ujian berat bagi sang pelayan dua kota suci. Dituding gagal mengelola haji tentu memiliki dampak lebih serius secara psikologis dan politis ketimbang mendapat kritik atas kebijakan kontroversialnya melibatkan Saudi dalam perang Yaman.

Raja yang baru naik tahta pada Januari 2015 memang kerap berbeda dari para pendahulunya, Raja Salman banyak membuat kebijakan yang "anti mainstream". Baik kebijakan politik dalam negeri, regional kawasan maupun kebijakan politik internasional kerajaan Saudi Arabia.

Bagi ummat dan negara-negera muslim, kepemimpinan raja Salman menjadi harapan besar. Dimana sebelumnya kebijakan politik KSA selalu identik dengan kepanjangtanganan kuasa AS di semenanjung Arab. Raja Salman merubah semua paradigma itu, diantaranya dengan mereformasi total orang-orang lama di kabinet yang selama ini dinilai menjadi proxy AS. Kemudian, memperkuat hubungan diplomatik dengan negara-negara Muslim di Timur Tengah dan Turki dibawah Erdogan yang muncul sebagai kekuatan baru ummat Islam.

Kebijakan anti mainstream ini tentu mengandung resiko, di dalam negeri Raja Salman tentu akan terus berhadapan dengan "The Deep State", sebagai negara kerajaan perebutan pengaruh sesama anggota keluarga adalah hal lumrah dan akan terus membayangi. Dari luar negeri, kebijakan politik Raja Salman yang dianggap mengacaukan peta politik global sudah pasti akan menemukan penghalangnya. Apalagi jika karenanya poros negara-negara Islam benar-benar terbentuk, tentu Raja Salman akan berhadapan dengan poros adikuasa yang telah lebih dulu mengangkangi dunia.

Kehadiran Raja Salman Maret nanti ke Indonesia tentu harus disambut dengan positif, namun harus tetap logis. Tidak perlu berlebihan hingga mendadak Arab, apalagi bagi sebagian kawan yang semula lantang betul teriak anti arab. Bukankah memuliakan tamu bukan hanya adab Islam, tetapi juga telah menjadi adab Nusantara? Dengan atau tanpa bantuan sepeserpun, Indonesia tetap bangsa yang penuh ramah tamah.

Selamat datang Yaa Khodimul Haromain.

Lubang Buaya, 24 Februari 2017

Kontak

Tetap terhubung dengan Saya


Alamat Rumah

Jl. Kramat, No.42, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur 13810

Nomor Ponsel

+(62) 838 1365 1836

Website

www.sulaemansaleh.my.id