Jangan pernah anggap remeh soal recehan, baik itu recehan dalam arti sebenarnya (uang receh) maupun hal lainnya yang seringkali diabaikan karena saking kecil nilainya.
Diawal pernikahan, di penghujung bulan Kami pernah kehabisan uang, tidak tersisa selembar pun di dompet. Akhirnya Kami kumpulkan receh-receh yang tersisa, ya benar-benar recehan logam dari cepek, duaratus, sampe gopekan sisa belanja yang sebelumnya berserakan dimana saja, diatas meja, dikolong meja, diatas lemari, dsb. Alhamdulillah terkumpul Rp.9000 saat itu, kata istri cukup untuk beli tempe sebagai lauk makan hari itu. Sepenggal kisah recehan yang akan terus Kami kenang hingga hari tua nanti.
Siapa sangka recehan yang remeh temeh itu "menyambung hidup" keluarga kecil Kami. Sejak saat itu, Kami tidak pernah mengabaikan lagi soal recehan. Tidak pelit berbagi receh yang Kami miliki apabila bertemu orang yang lebih membutuhkan di jalan. Bahkan istri punya celengen khusus uang recehan di rumah.
Cerita recehan ini juga mengajarkan Kami untuk tidak menahan hak orang lain, meski itu cuma receh. Seringkali Saya suka kepikiran kalau masih punya hutang pulsa, meski ngutangnya sama teman baik sendiri. Kita tahu untung dari jualan pulsa elektrik paling cuma gopek sampai seribu perak. Bagi Kita nilai recehan tersebut memang kecil, tapi bayangkan kalau ada 100 orang saja yang ngutang pulsa dan berpikir yang sama seperti kita, kasihan teman kita yang tertahan haknya kan?
Dalam perkara muamalah Rasulullah SAW mengajarkan;
“Berikanlah upah kepada pekerja sebelum kering keringatnya.” (H.R. Ibnu Majah).
Menahan hak orang lain tak akan membuat Kita kaya, malah sebaliknya hidup jadi tidak tenang dan tergolong sebagai orang zalim.
“Orang kaya yang memperlambat pembayaran hutang adalah kezaliman” (H.R. Bukhari, Muslim dan Malik).
Naudzubillah min dzalik.
Lubang Buaya, 11 Oktober 2016
