Thursday, 14 April 2016

Emang Ini Jalan Bapak Moyang Lu?



Suatu malam Saya mengendarai sepeda motor sambil memandu sebuah taksi menuju rumah. Rumah Kami atau lebih tepatnya adalah rumah orangtua Saya terletak di dalam gang kampung di daerah Lubang Buaya, Jakarta Timur. Gang yang hanya dapat dilalui satu mobil saja, untuk itu taksi yang Kami pesan perlu dijemput dan dipandu agar tidak kesulitan menuju rumah.

Malam itu, Istri Saya hendak mengantar ibu mertua kembali ke kediamannya setelah pelaksanaan aqiqah putri pertama Kami di rumah orangtua Saya.

Setibanya di dalam gang, sebuah mobil terparkir tepat di depan rumah seorang warga dan menghalangi jalan taksi yang Saya pandu. Enggan mengambil resiko, karena apabila dipaksakan kedua mobil bisa bergesekan, Saya tepikan sepeda motor dan mengucap salam permisi memanggil si empunya rumah tersebut.

Ternyata di pekarangan rumah sudah ada sebuah mobil sehingga satu mobil lainnya tak bisa masuk kedalam.

Sang tuan rumah pun keluar, dari wajahnya yang belum familiar Saya dapat menyimpulkan bahwa sang pemilik merupakan pendatang yang belum lama pindah ke lingkungan Kami.

Saya sampaikan dengan perlahan bahwa mobilnya menghalangi jalan taksi Saya dan mohon agar dapat dipinggirkan sebentar, sembari menunjuk ke.sebuah lahan kosong tak jauh dari rumah tersebut.

Alih alih memenuhi permohonan Saya, dengan nada tinggi sang tuan rumah malah marah-marah dan meminta taksi mundur dan masuk dari jalan lain.

Saya jelaskan kembali bahwa Saya hendak menjemput orangtua dan juga bayi usia dua bulan yang sudah cukup lama menunggu dan kembali Saya memohon pengertiannya agar bersedia meminggirkan mobilnya barang sebentar saja.

Untuk keduakalinya orang ini menolak permintaan  Saya sembari berteriak.

"Emang ini jalan punya moyang lu olang? Klo gak bisa lewat ya lu cari jalan lain jangan nyusahin gua!" Teriaknya dengan logat etnisnya yang khas.

"Baik klo nggak mau minggir, jangan salahin Saya klo mobil Anda lecet," timpal saya dengan sedikit meninggikan suara sambil menjauhi rumah si warga baru dan menahan emosi yang sebenarnya sudah diubun-ubun. Namun, mengingat anak, istri, dan mertua sudah menunggu lama Saya ogah memperpanjang urusan malam itu.

Saya kemudian bicara pada supir taksi agar maju pelan-pelan dan  meyakinkan siap bertanggungjawab apabila taksinya bergesekan dengan mobil di depan.

Syukur Pak supir cukup lihai, dalam suasana yang minim penerangan dan jarak yang sangat mepet taksi masih bisa lewat dengan mulus.

Saya melanjutkan perjalanan tanpa menoleh ke belakang meskipun masih terdengar sayup-sayup isi kebun binatang keluar dari mulut si warga baru.

Sesampainya di rumah, mertua dan istri yang sembari menggendong putri Kami bergegas masuk ke dalam taksi. Kepada Pak supir Saya tunjukan arah keluar gang selain gang Kami masuk tadi.

Selang beberapa lama Saya pun menyusul menggunakan sepeda motor. Sebelum berangkat Saya sempat ceritakan perihal kejadian barusan dengan si pendatang kepada Bapak Saya.

Singkat cerita, beberapa hari kemudian Saya pulang kembali ke rumah dan mendapat cerita menarik dari Bapak.

Selepas kejadian malam itu, ternyata Bapak memperpanjang masalah tersebut. Bagi Bapak sebagai warga asli pribumi dan "dituakan" di lingkungan Kami, perilaku sang pendatang harus diberi pelajaran.

Selepas subuh Bapak pergi ke rumah si warga baru membawa beberapa batang kayu kemudian memalangkannya tepat didepan pagar rumah si warga sombong tadi. Seisi rumah rupanya masih terlelap tidur dan tidak tahu apa yang terjadi di depan rumahnya.

Pagi beranjak siang, seketika di rumah warga baru tadi ramai orang berkerumun termasuk diantaranya Pak RT. Rupanya si warga baru kesal bukan kepalang karena ketika hendak keluar rumah mendapati pagar rumahnya dipalang bambu. Sambil terus memaki, Ia bertanya siapa yang berani memasang palang di rumahnya kepada warga yang berkerumun. Tak seorang pun menjawab.

Tibalah kembali Bapak Saya ke rumah tersebut sembari menenteng beberapa batang kayu lagi. Bapak dengan lantang menyahut "Gua yang mager rumah lu, kenapa emangnya?!"

Si empunya rumah terbengong-bengong mendengar jawaban berani yang tiba-tiba dilontarkan dari seorang Bapak yang sudah berumur kepala enam.

"Semalem lu kan maki-maki anak gua segala nanya emang ini jalan punya bapak moyang lu?" Sambung Bapak.

"Gua jawab sekarang, ini jalanan emang punya bapak moyang gua. Diwakafin bakal warga lewat, Anak gua mau lewat malah lu maki-maki, Gua tutup sekalian!"

Si warga baru pun naik pitam dan membentak Bapak.

"Ini rumah gua beli, lu gak bisa dong palang pager rumah olang seenaknya. Saya bisa laporin lu olang ke Polisi!" ancamnya dengan logat yang khas.

Sementara warga lainnya cuma menonton, Pak RT pun cuma bisa bengong sambil sesekali menahan si pendatang yang makin emosi.

"Lu baru bisa beli rumah, mobil jangan pake belagu. Emang lu merasa beli ini jalanan? Berani ngancem gua ke polisi segala. Bawa polisi kemari! gua tutup sekalian dari ujung biar orang kagak bisa lewat semua," Jawab Bapak tidak kalah gertak.

"Klo gua tutup ini jalan semua, apa kagak diusir lu sama warga sekampung gara-gara kesombongan lu bikin susah semua orang" Sambung Bapak.

Warga yang berkerumun pun mulai terdengar ikut bicara menyalahkan si warga baru, termasuk Pak RT yang ternyata juga tidak memihak warga barunya.

Mendengar ancaman dari Bapak yang terdengar "gak ada takutnya" dan merasa makin terpojok karena tak satupun warga berpihak padanya, si warga baru pun tidak sanggup berkata-kata lagi. Sesaat kemudian meraih tangan Bapak Saya sambil nangis-nangis minta maaf dan mohon ampun.

***

Sebuah pelajaran berharga yang dapat kita ambil. Bukan perbedaan suku, etnis, adat istiadat, atau agama yang kerap menjadi akar konflik antar individu maupun kelompok di masyarakat melainkan sikap angkuh yang terus menerus dipertontonkan oleh segelintir orang.

Mereka yang merasa lebih tinggi taraf hidupnya merasa berhak menghardik orang  yang nampak lebih rendah.

Mereka yang mampu membeli rumah merasa telah berhak mengusir si tuna wisma.

Mereka yang bermobil mewah merasa berhak merebut hak-hak pejalan kaki.

Sebuah pelajaran berharga yang ditunjukan Bapak, bahwa tak ada seorangpun yang boleh membeli harga diri kita dan jangan pernah menundukkan kepala dihadapan manusia yang zalim.


Sulaeman Saleh
Lubang Buaya, 14 April 2016


Kontak

Tetap terhubung dengan Saya


Alamat Rumah

Jl. Kramat, No.42, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur 13810

Nomor Ponsel

+(62) 838 1365 1836

Website

www.sulaemansaleh.my.id