Sunday, 11 October 2015

Serba Kartu



Pagi tadi di PTSP Kelurahan Lubang Buaya saat mengurus perubahan data Kartu Keluarga dalam rangka pembuatan Akte Kelahiran Salman.

Seorang bapak-bapak yang cukup berumur maju ke loket setelah nomor antriannya dipanggil oleh petugas. Kebetulan Saya duduk di kursi tunggu barisan paling depan tepat di belakang si Bapak tua tadi dan mencuri dengar percakapannya yang juga dapat didengar oleh seisi ruangan.

Petugas 1  : Ada yang bisa Kami bantu Pak?

Bapak tua : Begini dek, Saya mau nurunin daya listrik di rumah Saya dari 1300 ke 900 (KVA -red). Tapi ditolak PLN, disuruh bikin kartu KPS (Kartu Perlindungan Sosial -red) dulu katanya. Adek bisa bikinin?

(Fyi, PLN mencanangkan daya listrik 900 KVA diperuntukkan hanya bagi rumahtangga tidak mampu yang dibuktikan dengan kepemilikan KPS)

Petugas 1  :
Maaf Pak Kami tidak bisa membuat KPS disini.

Bapak tua : masa sih dek, terus Saya mesti bikin KPS dimana? (Dikuti dengan curhatan agak panjangnya yang tidak mampu bayar tagihan listrik yang mahal)
Petugas 1  : Kami hanya bisa membuatkan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) berdasarkan rujukan RT/RW. Tapi maaf Pak, beberapa hari lalu juga ada yang minta KPS untuk pengajuan ke PLN seperti Bapak, kemudian Kami buatkan SKTM tetapi tetap ditolak PLN karena syarat yang diminta KPS bukan SKTM.

Bapak tua : Piye dek Saya mesti buat KPS kalau begitu, bagaimana caranya?

Petugas 1  : Iya Pak, tapi maaf Pak Kelurahan tidak bisa menerbitkan KPS. Itu wewenang pemerintah pusat, programnya Pak Jokowi.

Bapak tua : Saya mesti kemana kalau begitu dek?

Petugas 1 : Kami juga tidak tahu Pak, prosedurnya KPS diterbitkan kemensos berdasarkan hasil survey tim BPS.

Bapak tua : Bagaimana caranya biar rumah Saya disurvey dek?

Petugas 1  : Gak tahu Pak, mereka yang survey langsung Pak bukan kelurahan (dengan intonasi mulai kesel).

Bapak tua :
Bisa minta tolong dikasihtau pusatnya biar survey rumah Saya dek?

Petugas 1  : Yang survey bukan Kami Pak, Kami gak kenal orang pusat. Jadi tim survey itu kerjanya keliling Pak tanpa ngasihtau kita mau survey dimana. Nanti rumah yang tidak mampu datanya dikirim ke mensos untuk dibuatin KPS. KPS nya dikirim langsung lewat kantor POS jadi kelurahan juga gak tahu siapa aja yang dapat KPS Pak.

Bapak tua : Iya Saya tahu, Saya cuma minta tolong biar rumah Saya disurvey bagaimana caranya? Saya beneran orang gak mampu koq dek.

Petugas 1  : Iya Pak, tapi bukan Kami yang survey, Kami juga gak tahu.

(15 menit kemudian dengan pembicaraan yang muter-muter diselingi curhatan kehidupan ekonomi si Bapak tua. Seisi ruangan mulai gerah karena antrian semakin sesak menunggu si Bapak tua selesai. Hingga akhirnya ada petugas lainnya yang ikut menengahi)

Petugas 2  : Begini saja Pak, Kami buatkan SKTM saja Pak tapi Kami tidak jamin pengajuan turun daya Bapak akan diterima PLN. Kami mohon maaf hanya bisa membantu sebatas wewenang Kami.

Bapak tua : yo wis dek, tapi kalau orang surveynya datang tolong kasihtau ya dek. (tetep -__-)

***

Inilah realita ketika tolok ukur berhak tidaknya seseorang menikmati bantuan dari negara dinilai dengan kepemilikan kartu.

Ketika orang miskin ingin sehat harus punya kartu. Mau pintar harus pakai kartu. Nelayan mau beli BBM murah harus pakai kartu. Petani mau beli pupuk murah harus pakai kartu. Mau menikmati listrik murah harus bikin kartu. Bukan dari pendapatan maupun daya beli rakyat. Yang entah kapan tim survey berkenan mampir ke rumah jutaan orang yang bernasib seperti Bapak tua tadi.


Sulaeman Saleh
Lubang Buaya, 12 Oktober 2015


Kontak

Tetap terhubung dengan Saya


Alamat Rumah

Jl. Kramat, No.42, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur 13810

Nomor Ponsel

+(62) 838 1365 1836

Website

www.sulaemansaleh.my.id